Hawa dingin mengepung sabtu pagi yang begitu tenang.Reza seorang mahasiswa fisip diuniversitas ternama jakarta
terbangun dengan wajah kebingungan. Tangannya menjulur kebalik bantal kepala
seraya mencari sesuatu. Tiba2 dia tersadar dan segera bangkit lalu
mengobrakabrik tempat tidurnya. Seisi kamar pun terbongkar. seperti satpolpp
yang menggusur jualan pedagangliar diemperan jalan. Reza berfikir keras,
bertanya dalam hati kemana handphone pribadinya. Badannya lesu. dengan langkah
gontai reza menuju kamarmandi membersihkan diri sebelum kembali kemasalah yang
merusak akhirpekan yang indah itu.
Setelah mandi reza bergegas menuju café dan memesan secangkir
kopi hitam dan roticoklat. reza menatap setiap sudutruangan. Lamunannya pecah,
ketika seorang pelayan berambut ikal nan cantik membawakan pesanannya. Sembari
tersenyum pelayan itu segera pergi meninggalkan reza dan hidangan diatas meja.
Saat reza tengah menikmati sarapan, datanglah iki. Teman sekampusnya difisip.
Iki memesan segelas teh panas, sembari menawarkan rokok pada reza. perbincangan
hangat pun terjadi. Reza menceritakan masalah yang baru saja menimpa dirinya.
Iki mendengar dan merespon keluhan dari temannya ini. iki mengatakan agar reza
mengingat lagi kapan, dan dimana reza meletakkan handphone tersebut sebelum
hilang.Reza menjelaskan semalam dia sempat mencharge handphone
dicafe sebelum dia dan ketiga teman termasuk iki, pulang ke koskosannya
masing2. Karena terlalu ngantuk reza tidak peduli lagi dengan barang bawaannya.
Iki yang merasa iba kepada reza langsung menelpon artur, dean dan kevin. Artur
mengatakan sewaktu keluar dari café dia sudah tidak memperhatikan sekeliling
lagi, dean dan kevin juga meberi jawaban yang sama dengan artur. Misteri
handphone yang hilang, iki berkata lirih dalam hati. Hujan mulai reda, reza dan
iki pun mengakhiri perbincangan. mereka segera meninggalkan café. Sesampainya
dikos iki kemudian menelpon artur, dean dan kevin. Iki mengajak semua temannya
untuk bertemu dan membahas masalah reza. Malam minggu kelabu bagi reza.Seperti kata pepatah sudah
jatuh tertimpa tangga pula, sudah jomblo hilang handphone pula. Miris memang bagi
pemuda 23tahun melewati malam minggu dengan berdiam diri dikos sendirian. Bagi reza
handphone adalah nyawanya yang kedua. Pacar yang setia dalam suka maupun duka. Lamunan
reza pecah saat keempat temannya datang. Mereka mengajak reza untuk jalan2. Reza
mengiyakan dan pergilah mereka ke café. Sesampainya disana mereka memesan
makanan dan minuman. Semua menu dibayar oleh dean mengingat dia baru saja
menerima gaji hasil keringat dari menjaga toko bangunan milik dosen
dikampusnya. Suasana penuh suka. Kevin pun melihat raut wajah reza yang sedari
tadi kusut tanpa tawa. Melihat situasi tidak memungkinkan iki lantas
menyodorkan tas plastik hitam kepada reza.
Reza menatap iki dengan wajah lesu. Kevin, dean dan artur
saling bertatapan dengan wajah penuh senyum.
Reza meraba dengan rasa penasaran, iki
menyuruh reza untuk melihat isi tas tersebut. Mereka bertiga kemudian
melanjutkan makanan mereka dengan lahap. Reza kaget bukan kepalang, bias-bias
kegembiraan terpancar jelas dari wajahnya. Dia tidak menyangka handphone
kesayangannya kembali tanpa kurang satu apa pun. Diciumnya handphone tersebut
sembari mengucap syukur kepada tuhan karena handphonenya sudah kembali. Reza menanyakan
handphone miliknya itu ada ditangan iki. Iki kemudian menceritakan kronologi
yang sebenarnya. Dean, artur dan kevin hanya tertawa.Mendengar cerita dan
melihat paras reza yang begitu pilu. Reza sebenarnya lupa bahwa handphonenya
itu tertinggal diatas meja akibat tergesagesa meniggalkan café tanpa memeriksa
lagi barang bawaanya.Untungnya iki melihat handphone tersebut dan menyimpannya
sebelum disadari oleh pengunjung yang lain. Dean, artur dan kevin mengingatkan
pada reza agar lebih teliti dengan barang bawaan sebelum pergi. Reza tersipu
malu dan mereka pun merayakan kebahagiaan itu dengan menikmati hidangan mereka
masing-masing.
TAMAT…
Follow mytwitter @rizalisme_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar